Banyak hal berbeda dari tahun ke tahun dalam perayaan hari
sumpah pemuda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Boleh dikata bahwa
perayaan hari sumpah pemuda saat ini lebih terfokus kepada seremonial saja. Namun
begitu, semangat para pemuda dalam merayakan hari sumpah pemuda tetap sama
namun konteksnya saja yang berbeda. Jika dahulu para pemuda memang belum
tersentuh oleh kemajuan zaman dan teknologi seperti sekarang maka saat ini zaman
sudah begitu canggih dan teknologipun sudah sedemikian majunya.
Menyikapi hari sumpah pemuda, kita
akan menemukan bahwa esensi dari sumpah pemuda adalah bersyukur. Mensyukuri hasil
perjuangan para pahlawan terdahulu yang telah berjuang mati-matian membela Negara
Indonesia tercinta. Beliau para pahlawan telah menuliskan sejarah dengan tinda
emas dan tugas generasi muda adalah menjaga dan melanjutkan perjuangannya. Banyak
cara untuk bersyukur diatara nya adalah dengan bekerja keras membuat diri kita
menjadi pemuda yang mampu bersaing dengan pemuda lain diseluruh dunia, menjadi
pemuda pencuri solusi bukan pemaki-maki, menjadi pemuda yang mampu membanggakan
kedua orang tuanya, Negara, bangsa, dan agama, juga pemuda yang penuh karya dan
banyak manfaatnya untuk sesama.
Peristiwa Sumpah
Pemuda termasuk lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah nikmat besar bagi bangsa
Indonesia. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya itu laksana tirta
amerta, air suci yang dapat menyembuhkan ibu pertiwi yang saat ini sedang
mengalami sakit komplikasi. Juga dapat seperti cahaya yang bisa menyingkap
kegelapan yang menyelimuti ibu pertiwi akibat ulah putra-putrinya yang nakal
dan masuknya nilai atau pengaruh negatif dari luar negeri. Ia juga bisa menjadi
jangkar yang menguatkan pendirian bangsa Indonesia ketika terombang-ambing oleh
derasnya arus globalisasi sehingga tidak terjerembab dalam “gombalisasi”. Oleh
karena itu mencari obat untuk kesembuhan ibu pertiwi bisa diperoleh dari bangsa
Indonesia sendiri. Obat dari luar negeri, seperti IMF, bisa jadi malah
dipalsukan.
Memang, akibat penyakit komplikasi itu, membuat
segala sesuatu yang ada pada bangsa Indonesia tidak sampai. Ilmunya walaupun
tinggi tidak sampai kepada kearifan, hukumnya tidak sampai pada keadilan,
ekonominya tidak sampai pada pemerataan, persatuanya tidak sampai pada
kekokohan, kekuasaannya tidak sampai pada pengayoman, kepimpinannya tidak
sampai pada keteladanan
Lagu kebangsaan Indonesia Raya, Sumpah Pemuda,
lambang negara Republik Indonesia, dasar negara, tujuan negara, sifat negara,
pembukaan undang-undang dasar ’45, semua itu menyimpan nilai-nilai luhur untuk
menyelamatkan Indonesia.
Bila menginsyafi hal ini maka memperingati
Sumpah Pemuda adalah wajib. Biarlah orang lain ada yang mengatakan peringatan
Sumpah Pemuda ini bid’ah dholalah. Dan memang, bagi generasi penikmat yang
tidak bersyukur mungkin bertanya-tanya untuk apa Sumpah Pemuda, lagu kebangsaan
Indonesia Raya. Peristiwa 81 tahun yang lampau itu, malah dianggap angin lalu
yang tidak relevan diperingati di jaman sekarang. Hanya membuang biaya banyak
tanpa ada manfaatnya.
Para pendahulu bangsa Indonesia sebenarnya
sudah mendidik kita agar menjadi manusia yang bersyukur kepada sesama manusia.
Satu contoh di dalam pembukaan UUD 45 alenia ke dua berbunyi : “ Dan perjuangan
pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia
dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang
kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan
makmur”. Disitu ada kata-kata; perjuangan kemerdekaan Indonesia dan pergerakan
kemerdekaan Indonesia. Perjuangan kemerdekaan berlangsung sejak tahun 1511 oleh
raja Demak, Pati Unus melawan Portugis sampai tertangkapnya Pangeran Diponegoro
tahun 1830. Dari kata-kata perjuangan kemerdekaan itu timbul deretan nama pahlawan
pejuang kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan lalu dilanjutkan dengan pergerakan
kemerdekaan sampai tahun 1945. Ada pergerakan di bidang politik, ekonomi,
sosial, agama, budaya, dan lain-lain. Dari situ timbul pula nama-nama pahlawan
pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia. Untuk menghargai jasa para pahlawan,
nama-nama mereka dijadikan nama jalan-jalan besar; di ibukota, propinsi,
kabupaten dan lain-lain. Mengapa tidak dijadikan nama gedung-gedung saja? Itu
pendidikan. Agar jutaan manusia yang setiap hari lalu lalang melewati jalan
nama pahlawan itu, ingat pengorbanan dan perjuangan yang telah ditempuh.
Sayangnya, tidak banyak orang yang lalu lalang itu menyadarinya.
Orang yang tidak menyadari nilai-nilai luhur
yang tersimpan dalam Sumpah Pemuda, lagu kebangsaan Indonesia Raya, dasar
negara dan lain-lain, akan menganggap berbagai peristiwa besar itu sebagai
kepunyaan masa lalu. Dan yang memprihatinkan, mereka tidak segan
menghapus-melenyapkan aset bangsa itu dan selanjutnya, mengganti dengan
nilai-nilai kotor seperti Bethorokolo (Bethoro : penguasa, Kolo :
waktu)-mumpung berkuasa, Dosomuko (Doso artinya sepuluh, Muko artinya kepala).
Satu orang memiliki sepuluh kepala; mata dua puluh, telinga dua puluh, mulut
sepuluh. Masing-masing kemauannya sendiri-sendiri. Ada yang suka makan aspal
dan lain sebagainya.
Kita harus senantiasa menjaga nilai-nilai luhur
bangsa sebab kalau tidak nilai luhur itu akan terkikis dengan masuknya budaya
luar yang berisi kekerasan yang diimport oleh pihak-pihak tertentu. Dan pada gilirannya,
negara Indonesia akan tinggal nama. Namanya masih Indonesia tapi isinya berupa
penjajahan. Ini terserah kita.
Apakah penjajahan itu ? Penjajahan itu bukan
manusia, bukan pemerintah tetapi nafsu serakah, thoma’, kedholiman, ingin
mencaplok hak orang lain. Bacalah alenia 1 pembukaan UUD ’45, “Bahwa
kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa oleh sebab itu maka penjajahan di atas
dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan
prikeadilan”. Bukan manusianya tapi nafsu serakah yang demikian itulah yang
harus dihapus, dibersihkan dari dunia, terutama dari bumi Indonesia. Mulai dari
diri kita sendiri. Kalau tidak dihilangkan, sampai kapanpun penjajahan di
Indonesia akan terus berlangsung, caplok sana, caplok sini.
Masalah Sumpah Pemuda adalah masalah yang
besar, mengandung keajaiban- keajaiban. Keajaiban itu dapat dilihat dari tempat
dan waktu terjadinya. Dari tempat terjadinya di rumah nomer 106 mengandung 7
keajaiban, seperti jumlah angkanya (1 + 0 + 6 = 7).
Tahun 1928 mengandung makna satu nusa, satu
bangsa. Terdiri 1900 dan 28. Tahun 1900 itu satu nusa. Penjelasannya 1 + 9 = 10
dan angka 10 sama dengan angka satu. 28 juga satu – satu bangsa ( 2 + 8 = 10 ).
Dan bulan Oktober, bulan kesepuluh – satu bahasa. Tanggal 28 juga sepuluh – satu
Negara Republik Indonesia. Jadi waktu terjadinya sumpah pemuda itu mengandung
makna Satu nusa, Satu bangsa, satu bahasa dan satu bentuk negara yaitu Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tanggal 28 yang mempunyai makna tentang bentuk
negara NKRI itu juga sesuai dengan nama gang-nya yaitu gang Kenari yang berarti
Kesatuan Negara Republik Indonesia. Gang artinya jalan sempit dan keadaan gang
itu bermacam-macam. Tapi yang dituju adalah gang Kenari. Juga nama jalannya
yaitu Kramat Raya, Kramat – Kemulyaan, Raya – besar. Menuju kemulyaan yang
besar bukan jalan kehinaan.
Itu mengenai nama tempat dan waktunya. Belum
lagi pelakunya yaitu para pemuda usia sekitar 25 tahun, bukan orang tua. Pada
jaman penjajahan itu, ibu pertiwi di injak-injak kehormatannya, pemimpin-pemimpinnya
di kerangkeng, kesadaran di bunuh, bangsanya di perbudak, kekayaan di keruk
melaut ke negara mereka, lisan di berangus, telinga di sumbat. Pada kondisi
yang sedemikian itu ibu pertiwi melahirkan Sumpah Pemuda. Dengan penuh
keberanian para pemuda melintasi batas suku, agama, daerah, meninggalkan
kebiasaan hura-hura untuk mempersatukan Indonesia. Ini ajaibnya pemuda masa
itu, tidak seperti sekarang ini yang suka tawuran.
Bagi penjajah, banyaknya penduduk Indonesia,
kerajaan-kerajaan yang ada di dalamnya, organisasi-organisasi tidak membuat
mereka takut tapi munculnya sumpah pemuda dan lagu kebangsaan Indonesia membuat
mereka seperti mendengar petir di siang bolong, bingung, ketakutan dan
kelabakan. Usahanya membuat bangsa Indonesia terutama golongan ningrat,
raden-raden menjadi ngantuk dan kalau bisa terus tidur, terancam. Mereka lalu
sibuk membuat dekrit yang melarang lagu Indonesia Raya dinyanyikan, barang
siapa diketahui menyanyikannya diancam penjara.
Penjajah tahu rahasia yang terkandung dalam
lagu kebangsaan Indonesia. Diantaranya, … marilah kita berseru
Indonesia bersatu … seruan persatuan antar agama, antar suku,
antar raja. Bukan hanya seruan persatuan yang membuat penjajah takut. Dalam
lagu itu juga diserukan agar jiwa bangsa Indonesia segera bangun – bangunlah
jiwanya bangunlah badannya – bangun untuk Indonesia Raya dan mencintainya.
Lebih menakutkan lagi karena lagu itu menyerukan berulang-ulang – merdeka,
merdeka, merdeka.
Bila saja makna dan seruan dalam lagu itu
diamalkan bangsa Indonesia dengan sadar dan insyaf akan menjadi musibah besar
bagi penjajah. Tidak lama lagi penjajah menuju lubang kubur. Sebaliknya, bagi
bangsa Indonesia akan mengalami kejayaan. Sebab bangsa Indonesia memang berjiwa
besar tapi sedang tidur, kena flu.
Istilah sumpah juga disadari sebagai hal yang
ajaib. Sumpah adalah kata-kata yang mengandung masalah besar. Sejak tahun 686 M
sampai tahun 1945 sumpah yang bersifat nasional sudah terjadi 4 kali dan efek
yang ditimbulkan sangat dahsyat.
- Tahun 686
Sumpah yang diucapkan Syailendra telah mengantarkan kebesaran Negara
Indonesia pertama yaitu negara Sriwijaya, daerah kekuasaannya meliputi
Pilipina dan Srilangka.
- Sumpah
Garuda, sumpahnya burung Garuda. Bagaimana burung bersumpah ? Burung
adalah lambang jiwa, Garuda lambang besar – Sumpahnya jiwa yang besar.
Seperti terdapat pada relief dinding candi Kidal di Malang. Yang mana di
candi itu disimpan abu pembakaran raja Anusapati yang wafat pada tahun
1245. Dikisahkan, Garuda memiliki seorang ibu namanya Winoto tapi sedang
diperbudak. Garuda bisa menyelamatkan ibunya bila ia bisa merebut guci
yang berisi air Amerta. Garuda akhirnya bersumpah untuk berbakti pada
ibunya – Winoto – ibu Pertiwi. Dengan tekad jiwa besar dan segala kemampuan
yang dimiliki, Garuda bisa merebut guci itu dan membebaskan ibunya dari
perbudakan. Ini cerita sejarah yang mengandung falsafah yang sebenarnya
juga ada dalam lagu Indonesia Raya, “Indonesia tumpah darahku”.Tumpah
darah itu merah dan putih. Merah artinya berani, putih artinya suci.
Berani karena benar, bukan karena tabiat seperti singa, karena kepepet
lalu menggerogoti uang negara. Yang salah saja berani, mengapa yang benar
tidak ? Membela tanah tumpah darah. Disanalah aku berdiri tegak, berdiri
imannya, pendiriannya. Untuk menjadi pandu ibuku. Itu sumpah. Makanya
kalau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dilakukan sambil berdiri.
Berdiri itu artinya bersumpah mengamalkan isi lagu Indonesia Raya yang
dinyanyikan itu.
- Sumpah
nasional yang ketiga tahun 1331, Sumpah Palapa – sumpah Maha Patih Gajah
Mada. Setelah diucapkan, sumpah itu lalu diperjuangkan selama 2 tahun
lebih, kemudian timbul kejayaan Mojopahit pada jaman Hayam Wuruk.
Berselang 597 tahun kemudian terjadi Sumpah
Pemuda, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Selang waktu 597 itu ternyata juga
mengandung makna tiga, 5 + 9 + 7 jumlahnya 21, 2 dengan 1 sama dengan 3 – Satu
nusa, Satu bangsa, Satu bahasa. Dan berselang 17 tahun dari Sumpah Pemuda
muncul Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Peristiwa sumpah pemuda telah memunculkan
seorang tokoh besar, pencipta lagu Indonesia Raya, WR. Supratman. Seorang
pemuda berbadan kurus kering, fakir miskin, sampai wafat di Surabaya pada usia
35 tahun belum mempunyai rumah.
Tapi kefakiran, kekurusan yang menyelimuti
badannya itu tersimpan jiwa yang besar. Kebesaran jiwa itu dituliskan di
atas secarik kertas sehingga menjadi lagu Kebangsaan Indonesia. Menjadi
satu-satunya lagu yang keramat di antara ribuan lagu di Indonesia saat itu dan
bisa meneteskan air mata. Satu-satunya lagu yang harus dinyanyikan dengan cara
berdiri. Satu-satunya lagu yang ditakuti penjajah dan dilarang selama 14 tahun.
Satu-satunya lagu yang masuk konstituti Negara Republik Indonesia (bab 15 pasal
36 b lagu Indonesia Raya). Satu-satunya lagu yang mengantarkan WR Supratman
menjadi Pahlawan Nasional. Lagu yang senantiasa dikenang di seluruh Indonesia.
Satu-satunya lagu yang tidak sembarangan cara menyanyikannya. Ada aturan, yang
aturan itu sudah masuk lembaga negara. Bukankah itu menunjukkan kebesaran jiwa
untuk melawan penjajah?
Lagu itu lahir pada malam yang sama dengan
sumpah pemuda. Sekarang kita tinggal menikmati dan mensyukuri. Apakah tidak
malu, melalui jalan-jalan yang namanya pahlawan-pahlawan itu, kalau kita tidak
bersyukur. Saya yakin selama sifat malu belum koyak pasti akan bersyukur kepada
Tuhan Yang Maha Kuasa dan bersyukur kepada sesama manusia. Nabi Muhammad
bersabda : “Barang siapa yang tidak bersyukur kepada sesama manusia tidak
beryukur kepada Alloh”.
Sumber : www.duniapemuda.com



Luar biasa, bacanya gak ampe selesai si tp pasti luar biasa.
BalasHapus